Hasibuan,, Mhd Thamrin (2026) Makna dan Simbol Tortor Suhut Bolon Dalam Horja Godang Pada Masyarakat Angkola Di Desa Mondang Kecamatan Sosa Kabupaten Padang Lawas. Undergraduate thesis, UNIMED.
2211141005_Cover.pdf
Download (396kB)
2211141005_Lembar_Pengesahan.pdf
Download (670kB)
2211141005_Abstrak.pdf
Download (599kB)
2211141005_Kata_Pengantar.pdf
Download (543kB)
2211141005_Daftar_Isi.pdf
Download (538kB)
2211141005_Daftar_Gambar.pdf
Download (515kB)
2211141005_Daftar_Tabel.pdf
Download (514kB)
2211141005_Daftar_Lampiran.pdf
Download (418kB)
2211141005_BAB_I.pdf
Download (983kB)
2211141005_BAB_II.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (793kB)
2211141005_BAB_III.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (594kB)
2211141005_BAB_IV.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (2MB)
2211141005_BAB_V.pdf
Download (572kB)
2211141005_Daftar_Pustaka.pdf
Download (538kB)
2211141005_Lampiran.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (951kB)
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan Makna dan Simbol Tortor Suhut
Bolon dalam Horja Godang pada masyarakat Angkola di Desa Mondang,
Kecamatan Sosa, Kabupaten Padang Lawas. Penelitian ini menggunakan teori
makna dan teori simbol yang mengangkat dari teori Royce Anya Peterson
(2007:211) dan teori simbol dari Langer, Susanne k (2006 :128) yang merumuskan
makna dan simbol dalam tari dapat dilihat melalui gerak, pola lantai, busana, tata
rias dan iringan musik. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif
deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan
dokumentasi. Lokasi penelitian di Desa Mondang, Kecamatan Sosa, Kabupaten
Padang Lawas sejak bulan Mei 2025 sampai Juli 2025. Hasil penelitian Tortor
suhut bolon dalam horja godang adalah tarian pembuka dalam runtunan upacara
adat pernikahan, yang dilakukan oleh pihak keluarga besar pendiri pesta (suhut
bolon) dengan pasangan menari anak boru sering di sebut pangayapi ni suhut.
Tortor suhut bolon ini memaknakan ungkapan rasa sukur dan bahagia keluarga
suhut atas pernikahan anak laki-lakinya sekaligus ingin memberikan gelar raja
kepada anaknya. Dalam gerak pada saat Manortor Suhut Bolon terdapat makna dan
simbol mulai dari gerak bersiap bermakna (persiapan batin dan penghormatan awal
izin kepada Raja-Raja huta desa), Manyomba bermakna (meminta berkat dan
permohonan kepada Tuhan yang maha esa) Mangayapi bermakna (melindungi dan
memberikan dorongan semangat untuk Suhut Bolon), Mangalehen paroppa sadun
bermakna (mengembalikan semangat Tondi dan gogo kekuatan kedalam tubuh
kembali). Pola lantai dengan empat arah hadap, menghadap raja, pengantin, tamu,
tamu arah sisi lain dan ditutup mengahdap raja kembali. Busana dalam Manortor
haruslah sopan dan tertutup aurat, dikarenakan mayoritas Panortor Suhut Bolon
dalam suku Angkola muslim, untuk Panortor laki-laki wajib menggunakan peci,
jas (baju lengan panjang), celana panjang, sasapin dan untuk Panortor perempuan
berhijab, memakai kebaya jika tidak ada baju kurung, songket (bisa juga memakai
sarung), bermakna kesopanan dan kehormatan dalam menyembah Tuhan yang
maha esa dan dalam menghormati raja-raja ditambah ulus sadun bermakna
memberi kuat. Tata rias yang digunkan natural dan simpel sebagai unsur pendukung
mempercantik wajah. Iringan musik syair Onang-Onang bermakna pujian doa dan
harapan untuk Suhut Bolon.
| Item Type: | Thesis (Undergraduate) |
|---|---|
| Keywords: | TortorSuhut Bolon; Makna; Simbol |
| Subjects: | G Geography. Anthropology. Recreation > GV Recreation Leisure M Music and Books on Music > M Music N Fine Arts > NX Arts in general |
| Divisions: | Fakultas Bahasa dan Seni > Pendidikan Seni Tari |
| Depositing User: | Ricky Syahrizal |
| Date Deposited: | 17 Sep 2026 03:54 |
| Last Modified: | 17 Sep 2026 03:54 |
| URI: | https://digilib.unimed.ac.id/id/eprint/68854 |
