Octaviani, Tania Rizqy (2025) Eksistensi Tortor Mora Pada Masyarakat Padang Lawas Kecamatan Barumun Kabupaten Padang Lawas. Undergraduate thesis, UNIMED.
2202141006_Cover.pdf
Download (39kB)
2202141006_Lembar_Pengesahan.pdf
Download (234kB)
2202141006_Abstrak.pdf
Download (147kB)
2202141006_Kata_Pengantar.pdf
Download (178kB)
2202141006_Daftar_Isi.pdf
Download (201kB)
2202141006_Daftar_Gambar.pdf
Download (173kB)
2202141006_Daftar_Tabel.pdf
Download (78kB)
2202141006_Daftar_Lampiran.pdf
Download (79kB)
2202141006_BAB_I.pdf
Download (363kB)
2202141006_BAB_II.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (399kB)
2202141006_BAB_III.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (280kB)
2202141006_BAB_IV.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (2MB)
2202141006_BAB_V.pdf
Download (227kB)
2202141006_Daftar_Pustaka.pdf
Download (227kB)
2202141006_Lampiran.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (5MB)
Abstract
Tujuan penelitian ini mengkaji eksistensi tortor Mora pada masyarakat
Kecamatan Barumun Kabupaten Padang Lawas menggunakan teori Soejono
Soekanto yang menyatakan bahwa “Eksistensi adalah keberadaan sesuatu yang
dapat dipengaruhi oleh dua faktor yaitu: 1. Faktor internal, meliputi a) Bertambah
atau berkurangnya penduduk, b) Munculnya berbagi penemuan baru, c)
Terjadinya pemberontakan atau revolusi, d) Pertentangan masyarakat; dan 2.
faktor eksternal meliputi a) Sebab yang berasal dari lingkungan manusia, b)
Pengaruh kebudayaan terhadap masyarakat, c) Peperangan. Penelitian ini
menggunakan metode deskriptif kualitatif yang menarasikan data sesuai fakta di
lapangan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara dan
dokumentasi. Waktu penelitian dilakukan dari bulan Juli-Agustus 2024. Populasi
pada penelitian ini yaitu panortor Mora, masyarakat Padang Lawas, Dalihan
Natolu. Sedangkan sampelnya ada tiga orang pemangku adat, dan pihak mora
pada acara pernikahan di Desa Matondang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
bertambah atau berkurangnya penduduk tidak mempengaruhi eksistensi tortor
Mora; munculnya berbagai penemuan baru ditandai dengan gerak tortor Mora
mengalami perubahan yaitu yang awalnya sesuai adat seharusnya tangan Mora
lurus lalu diganti menjadi ekspresi sesuai suasana hati pada saat disajikan tortor
Mora, tidak ada aturan baku; silua (cendramata) untuk suhut, manaburkon
mangupah menggunakan bunga pinang; Terjadinya pemberontakan antara
pemangku adat dan masyarakat Padang Lawas, pemberontakan di sini
diterjemahkan sebagai kondisi perbedaan pendapat antara kelompok pemangku
dan pemerhati adat dengan kelompok ulama; dan tanduk kepala kerbau tidak lagi
digunakan sebagai upaya menghindari riya. Sedangkan untuk eksistensi
eksternalnya adalah tidak ditemukan data mengenai sebab yang berasal dari
lingkungan manusia dan peperangan; pelaksanaan Horja Godang dapat dilakukan
oleh kalangan biasa. Dalihan Natolu (Kahanggi, Mora, Anak Boru) berperan
sesuai fungsinya dan dapat terlibat dalam musyawarah yaitu Pokat Menek (Tahi
Sapanggodangan), Pokat Godang (Tahi Marhuta) di antaranya mangalo-alo, dan
maralok-alok, alus Ni Hata Sian Raja Pamusuk yang diketuai oleh pemangku
adat. Tortor Mora terdiri dari 5 pola lantai. Hingga saat ini, eksistensi tortor Mora
masih dapat dilihat pada masyarakat Padang Lawas dan keberlanjutannya terus
berjalan.
| Item Type: | Thesis (Undergraduate) |
|---|---|
| Keywords: | Eksistensi; Tortor Mora; Padang Lawas |
| Subjects: | N Fine Arts > NX Arts in general |
| Divisions: | Fakultas Bahasa dan Seni > Pendidikan Seni Tari |
| Depositing User: | Ricky Syahrizal |
| Date Deposited: | 30 Apr 2026 03:24 |
| Last Modified: | 30 Apr 2026 03:24 |
| URI: | https://digilib.unimed.ac.id/id/eprint/66645 |
