Sinaga, Marlina Theresia KEDUDUKAN BORU DIAMPUAN DALAM ADAT-ISTIADAT PADA ETNIS BATAK TOBA DI DESA SIALANGUAN KECAMATAN PANGURURAN. Undergraduate thesis, UNIMED.
3212322003_Cover.pdf
Download (130kB)
3212322003_Lembar_Pengesahan.pdf
Download (235kB)
3212322003_Abstrak.pdf
Download (292kB)
3212322003_Kata_Pengantar.pdf
Download (443kB)
3212322003_Daftar_Isi.pdf
Download (290kB)
3212322003_Daftar_Gambar.pdf
Download (127kB)
3212322003_Daftar_Tabel.pdf
Download (198kB)
3212322003_Daftar_Lampiran.pdf
Download (197kB)
3212322003_BAB_I.pdf
Download (489kB)
3212322003_BAB_II.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (673kB)
3212322003_BAB_III.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (843kB)
3212322003_BAB_IV.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (1MB)
3212322003_BAB_V.pdf
Download (357kB)
3212322003_Daftar_Pustaka.pdf
Download (316kB)
3212322003_Lampiran.pdf
Download (861kB)
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kedudukan boru diampuan dalam adat-istiadat pada etnis Batak Toba, menganalisis tantangan yang dihadapi boru diampuan dalam adat-istiadat pada etnis Batak Toba. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi. Lokasi penelitian dilakukan di Desa Sialanguan, Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini melalui observasi partisipan, wawancara mendalam, dokumentasi, dan catatan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa menantu laki-laki yang tinggal di kampung istrinya disebabkan oleh keterbatasan ekonomi saat tinggal di perantaun sehingga memilih untuk pulang ke kampung istrinya. Terdapat tiga kedudukan boru diampuan dalam adat istiadat yaitu status sosial yang rendah, berperan sebagai parhobas (pelayan acara adat), dan tidak memiliki hak atas warisan keluarga mertua. Dengan adanya kedudukan boru diampuan dalam adat-istiadat menimbulkan beberapa tantangan yang dihadapi oleh boru diampuan yaitu status sosial kurang menguntungkan, tantangan psikologis, dan konflik penggunaan lahan pertanian. Fenomena boru diampuan di Desa Sialanguan mengakibatkan adanya ketidaksetaraan gender karena menunjukkan adanya peran yang lebih dominan dan menuntut pengorbanan dari pihak boru diampuan, yaitu menantu laki-laki yang tinggal di kampung istrinya. Ketidaksetaraan gender terlihat ketika mengedepankan laki-laki (hula-hula) dan menempatkan boru diampuan sebagai anggota parhobas (pelayan) atau yang selalu terpinggirkan dalam keluarga mertua.
| Item Type: | Thesis (Undergraduate) |
|---|---|
| Keywords: | Etnis Batak Toba, Boru Diampuan, Dalihan Natolu, Peran Boru Diampuan, Ketidaksetaraan Gender |
| Subjects: | G Geography. Anthropology. Recreation > GN Anthropology |
| Divisions: | Fakultas Ilmu Sosial > Pendidikan Antropologi |
| Depositing User: | Mr Setiady Setiady |
| Date Deposited: | 22 Apr 2026 07:23 |
| Last Modified: | 22 Apr 2026 07:23 |
| URI: | https://digilib.unimed.ac.id/id/eprint/66527 |
