SIKAP ETNIK MANDAILING DALAM MEMANDANG PENCANTUMAN KATA BATAK DI DEPAN KATA MANDAILING TERHADAP IDENTITASNYA PADA MASA KINI

Muda, Imsar (2015) SIKAP ETNIK MANDAILING DALAM MEMANDANG PENCANTUMAN KATA BATAK DI DEPAN KATA MANDAILING TERHADAP IDENTITASNYA PADA MASA KINI. Masters thesis, UNIMED.

[img]
Preview
Text
1. COVER.pdf - Published Version

Download (97kB) | Preview
[img]
Preview
Text
2. LEMBAR PENGESAHAN.pdf - Published Version

Download (247kB) | Preview
[img]
Preview
Text
3. ABSTRAK.pdf - Published Version

Download (149kB) | Preview
[img]
Preview
Text
4. KATA PENGANTAR.pdf - Published Version

Download (140kB) | Preview
[img]
Preview
Text
5. DAFTAR ISI.pdf - Published Version

Download (144kB) | Preview
[img]
Preview
Text
6. DAFTAR GAMBAR.pdf - Published Version

Download (34kB) | Preview
[img]
Preview
Text
7. BAB I.pdf - Published Version

Download (209kB) | Preview
[img]
Preview
Text
11. BAB V.pdf - Published Version

Download (175kB) | Preview
[img]
Preview
Text
12. DAFTAR PUSTAKA.pdf - Published Version

Download (174kB) | Preview

Abstract

Permasalahan identitas etnik Mandailing sudah lama terjadi, yaitu pada tahun 1920-an. Apakah Mandailing itu Batak atau bagian dari sub etnik Batak. Pada waktu itu perantau-perantau Mandailing di Tanah Deli sudah sangat dikenal oleh masyarakat Melayu atau perantau-perantau dari etnik lain. Masyarakat Mandailing di Tanah Deli umumnya adalah pedagang, guru-guru agama dan bahkan sudah ada yang masuk dalam struktur birokrasi kerajaan Melayu. Hal ini mendorong perantau-perantau yang lain yang berasal dari daerah selatan Tapanuli seperti Angkola memperkenalkan diri mereka sebagai orang-orang Mandailing atau bagian dari Mandailing. Belakangan mereka tidak mau lagi memakai identitas Mandailing, mereka merasa lebih nyaman menyebutkan diri mereka sebagai bagian dari Batak atau sub etnik Batak. Bahlan mereka juga menyebutkan bahwa Mandailing itu juga bagian dari Batak. Tentu saja hal ini sangat keras ditentang oleh Masyarakat Mandailing yang menganggap diri mereka sebagai etnik Mandailing tanpa terkait dengan Batak, bukan bagian dari Batak atau bukan Batak Mandailing. Dengan mengemukakan segala macam argumentasi masyarakat Mandailing menolak pernyataan tersebut. Persoalan ini mengerucut pada suatu pertikaian, yang dikenal “peristiwa pekuburan sungai mati di Medan”. Pada waktu itu Pekuburan Sungai Mati, Medan diperuntukkan kepada orang-orang atau etnik Mandailing atau yang mengaku Mandailing, termasuk Angkola dan Sipirok karena selama ini mereka mengaku Mandailing. Oleh karena mereka mengaku bagian dari etnik Batak di belakang hari maka gugurlah hak mereka di pekuburan sungai mati. Hal ini ditentang mereka. Perkara pun akhirnya keluar masuk pengadilan. Akhirnya perkara tersebut dimenangkan oleh masyarakat Mandailing dan pengadilan menyatakan perkara tersebut selesai. Dengan demikian pengadilan tersebut mengakui identitas Mandailing sebagai suatu etnik. Demikian kerasnya masyarakat Mandailing mempertahankan identitas etniknya pada waktu, sekarang bagaimanakah sikap dan pandangan masyarakat Mandailing yang sekarang terhadap identitas. Apakah sudah ada pergeseran, atau apakah mereka sudah mengangap mereka bagian dari etnik Batak. Penelitian ini dilakukan di Bandar Selamat kota Medan dan tempat-tempat lain yang menjadi konsentrasi manyarakat Mandailing di kota Medan . Penelitian ini mengunakan metode penelitian kwalitatif dengan mewawancarai masyarakat Mandailing dari berbagai lapisan dan dari berbagai profesi, seperti tokoh-tokoh adat Mandailing, pelajar, orang-orang tua. Dari penelitian ini diperoleh kesimpulan bahwa Masyarakat Mandailing dalam memandang identitasnya sebagai bagian dari etnik Batak atau tidak telah terjadi polarisasi. Terjadi dua kutub, Satu mengatakan dengan tegas bahwa Mandailing bukan bagian dari etnik Batak, Mandailing adalah sebuah etnik tersendiri yaitu etnik Mandailing. Dengan segala macam argumentasi mereka samapaikan, baik argumentasi yang bersifat antropologis, sejarah, arkrologis dan budaya. Mereka ini umumnya adalah orang-orang tua yang sudah lama merantau di Medan, dan mengetahui permasalahan ini dari orang –orang tua mereka dahulu ketika mereka masih tinggal di kampung. Pendapat yang kedua mengatakan Mandailing adalah bagian dari etnik Batak. Mereka umumnya adalah orang-orang yang lebih muda atau pelajar. Mereka mendasarkan pendapat mereka dari apa yang mereka baca atau dengar dari orang-orang tua mereka yang juga terpelajar atau media massa. Pendapat yang lain mengatakan mereka mengaku bagian dari etnik Batak dengan alasan pragmatis. Artinya diluar mereka mengaku Batak tapi di dalam hati tetap Mandailing bukan bagian etnik Batak. Seperti menjaga rasa persahabatan. Demikian.

Item Type: Thesis (Masters)
Contributors:
ContributionNameNIP
Thesis advisorPelly, UsmanUNSPECIFIED
Thesis advisorZuska, Fikarwin196212201989031005
Call Number: 306.859 812 Mud s
Keywords: Teori identitas; Sistem sosial; Sistem kekerabatan; Sistem religi; Etnik Batak
Subjects: G Geography. Anthropology. Recreation > GN Anthropology
G Geography. Anthropology. Recreation > GN Anthropology > GN301 Ethnology. Social and cultural anthropology
G Geography. Anthropology. Recreation > GN Anthropology > GN537 Ethnic groups and races
Divisions: Program Pasca Sarjana > Antropologi Sosial
Depositing User: Mrs Siti Nurbaidah
Date Deposited: 27 Jul 2016 04:43
URI: http://digilib.unimed.ac.id/id/eprint/6934

Actions (login required)

View Item View Item