PERUBAHAN BUDAYA ETNIK SIMALUNGUN DALAM UPACARA PERKAWINAN ADAT (IBAGAS DEAR)

Sipayung, Jon Henri (2014) PERUBAHAN BUDAYA ETNIK SIMALUNGUN DALAM UPACARA PERKAWINAN ADAT (IBAGAS DEAR). Masters thesis, UNIMED.

[img]
Preview
Text
1. 8106152008 Cover.pdf - Published Version

Download (137kB) | Preview
[img]
Preview
Text
2. 8106152008 Lembar Pengesahan.pdf - Published Version

Download (290kB) | Preview
[img]
Preview
Text
3. 8106152008 Abstrak.pdf - Published Version

Download (240kB) | Preview
[img]
Preview
Text
4. 8106152008 Kata Pengantar.pdf - Published Version

Download (91kB) | Preview
[img]
Preview
Text
5. 8106152008 Daftar Isi.pdf - Published Version

Download (127kB) | Preview
[img]
Preview
Text
6. 8106152008 Daftar Tabel.pdf - Published Version

Download (124kB) | Preview
[img]
Preview
Text
7. 8106152008 Daftar Gambar.pdf - Published Version

Download (124kB) | Preview
[img]
Preview
Text
8. 8106152008 Bab I.pdf - Published Version

Download (503kB) | Preview
[img]
Preview
Text
9. 8106152008 Bab V.pdf - Published Version

Download (131kB) | Preview
[img]
Preview
Text
10. 8106152008 Daftar Pustaka.pdf - Published Version

Download (268kB) | Preview

Abstract

Ada tiga masalah yang diajukan dalam penelitian ini yaitu: Bagaimanakah sebenarnya secara ideal upacara perkawinan adat (ibagas dear) etnik Simalungun di Kecamatan Panombeian Panei? Bagaimanakah terjadinya proses perubahan upacara perkawinan adat (ibagas dear) etnik Simalungun di Kecamatan Panombeian Panei? Faktor-faktor apakah yang menyebabkan terjadinya proses perubahan upacara perkawinan adat (ibagas dear) etnik Simalungun di Kecamatan Panombeian Panei?. Metode yang dipergunakan dalam penelitian ini menjawab masalah diatas ialah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif untuk mendeskripsikan perubahan budaya etnik Simalungun dalam upacara perkawinan adat (ibagas dear) sebagai suatu realitas sosial. Data-data yang diperoleh dalam penelitian ini bersumber dari informan sumber data. Teknik pengumpulan data yang dilakukan ialah melalui observasi partisipasi, wawancara secara terstruktur dan tidak terstruktur terhadap informan sumber data, dan studi kepustakaan. Data-data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif dalam tiga tahap yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.Hasil-hasil penelitian adalah: Martondur mengacu kepada mendapatkan kecocokan antara lelaki dan perempuan sebelum perkawinan dan mereka di dalam perkenalan langsung serta menghormati tata krama yang berlaku. Mambere goloman yaitu bentuk tanda kesungguhan hati yang mana dipergunakan pada saat ini adalah bentuk cincin emas dari lelaki dan cincin emas juga dari perempuan. Patappei parsahapan yaitu pembicaraan resmi antara keluarga lelaki dan keluarga perempuan pada zaman dahulu dalam dialog mempergunakan folklore dan saat ini mempergunakan bahasa sehari-hari pada umumnya, dan pada zaman dahulu selesai dahulu pembicaraan adat mengenai mahar baru diberikan indahan patappei parsahapan kepada pihak keluarga perempuan tapi sekarang tidak seperti ini lagi. Manggong yaitu pemberitahuan perkawinan pada zaman dahulu undangan melalui sehelai demban ( sirih ) tetapi pada saat ini undangan sudah melalui Gereja dan undangan tertulis. Mangalop boru menjemput seorang wanita untuk dijadikan istri pada zaman dahulu pengesahannya dilakukan oleh sipukka huta, tetapi pada saat ini oleh Pendeta di Gereja. Pesta perkawinan adat, pada zaman dahulu upacara pesta dilakukan satu hari dan pada saat ini selain upacara pesta perkawinan adat ada lagi dua upacara yang dilakukan yaitu manaruhkon indahan siopat borngin dan paulak limbas. Manaruhkon indahan siopat borngin pada zaman dahulu dilakukan empat hari setelah pesta perkawinan adat, dan pada saat ini upacara manaruhkon indahan siopat borngin sudah diintegrasikan dengan upacara pesta perkawinan adat dalam horja sadari. Paulak limbas pada zaman dahulu dilakukan setelah tujuh hari upacara pesta perkawinan adat, dan pada saat ini upacara paulak limbas sudah diintegrasikan dengan upacara pesta perkawinan adat dalam horja sadari. Pajaehon pada zaman dahulu dilakukan setelah dua atau tiga bulan dan Orang tua dalam memberikan nasehat dengan mempergunakan folklore Simalungun, pada saat ini pajaehon dilakukan setelah satu minggu dan nasehat-nasehat orangtua sudah jarang mempergunakan folklore Simalungun. Ada lima faktor atau unsur yang mempengaruhi warga etnik Simalungun di Kecamatan Panombeian Panei melakukan penerimaan cara-cara baru dalam upacara perkawinan adat (ibagas dear)) yaitu: efisiensi, agama (Kristen), internalisasi budaya, pendidikan dan budaya global.

Item Type: Thesis (Masters)
Contributors:
ContributionNameNIP
Thesis advisorSibarani, RobertUNSPECIFIED
Thesis advisorAzhari, IchwanUNSPECIFIED
Call Number: 306.81 Sip p
Keywords: Etnik simalungun; Upacara perkawinan; Ibagas dear; Adat
Subjects: G Geography. Anthropology. Recreation > GT Manners and customs
H Social Sciences > HQ The family. Marriage. Woman
Divisions: Program Pasca Sarjana > Antropologi Sosial
Depositing User: Mr Renaldi Syafaruddin Akbar
Date Deposited: 09 Apr 2016 08:13
URI: http://digilib.unimed.ac.id/id/eprint/4425

Actions (login required)

View Item View Item